
Startup kian menjadi sebuah awal bagi orang-orang yang memiliki jiwa enterpreneur untuk mengembangkan suatu produk ataupun layanan jasa. Menjadi enterpreneur harus selalu bisa menyesuaikan dan mengikuti perkembangan zaman dan rutin mengubah pola pikir serta ber-inovasi demi menjadikan perusahaan rintisan terus berkembang dan menjadi besar tanpa ada batasan.
Indonesia sendiri berada dalam 5 besar negara di dunia dengan jumlah startup terbanyak. Totalnya mencapai 1.705 startup, menempatkan Indonesia di urutan keempat di bawah Amerika Serikat (28.794 startup), India (4.713 startup), dan Inggris (2.971).
Diprediksi pada tahun 2019 angka tersebut akan terus bertambah seiring dengan majunya teknologi yang menjadikan orang-orang kian inovatif dan ingin mengembangkan serta mewujudkan passion mereka dalam dunia bisnis. Hal tersebut didasari oleh tingginya kebutuhan customer atau pasar terkait dengan kegiatan e-commerce. Data Sensus Ekonomi pada tahun 2016 yang didapat dari Badan Pusat Statistik, menyatakan dalam 10 tahun terakhir industri e-commerce di Indonesia tumbuh sekitar 17% dengan total unit usahanya mencapai 26,2 juta.
McKinsey dalam laporannya yang berjudul “Unlocking Indonesia’s Digital Opportunity” juga memperkirakan bahwa peralihan ke ranah digital akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia hingga US$150 miliar pada tahun 2025. Masifnya penggunaan telepon seluler pintar juga menjadi salah satu faktor pendukung pertumbuhan industri e-commerce di Indonesia. Inilah mengapa banyak startup dibuat dan dikembangkan di Indonesia, khususnya startup yang berbasis teknologi atau yang bergerak di ranah digital. Hal tersebut dikarenakan sekarang kebanyakan orang atau customer memiliki ketertarikan terhadap digital platform ataupun electronic commerce (e-commerce), yang dimana pelayanan menjadi lebih mudah dan cepat.
Umumnya, para penggiat startup membangun bisnis baru agar tumbuh dengan cepat dan berkembang pesat serta memiliki tujuan untuk memenuhi kebutuhan pasar dengan mengembangkan model bisnis yang layak seperti produk, layanan, proses, ataupun platform yang inovatif. Startup biasanya merupakan perusahaan yang dirancang untuk secara efektif mengembangkan dan memvalidasi model bisnis yang scalabel. Inti dari startup sendiri kebanyakan terkait dengan konsep ambisi, inovasi, skalabilitas, dan pertumbuhan yang cepat.
Semua penggiat startup pastinya menginginkan perusahaan mereka berkembang dan terus maju hingga memiliki valuasi mencapai US$1 miliar atau setara dengan 14 triliun, dan berada pada level “Unicorn” atau bahkan “Decacorn” yaitu tingkatan yang lebih tinggi nilai valuasinya yakni senilai US$10 miliar (sekitar 140 triliun rupiah).
Demi mencapai level tersebut bukanlah hal yang mudah, perusahaan startup harus bekerja keras dan fokus untuk mencapai keberhasilan dan memastikan bahwa startup yang dirintis dapat ditingkatkan skalabilitasnya serta memiliki pondasi yang kuat dan visi misi yang jelas.
Untuk membangun sebuah perusahaan startup dengan level “Unicorn”—apalagi “Decacorn”, sangatlah beda metodenya dari perusahaan konvensional pada umumnya. Bahkan, untuk mencapai kesuksesannya pun keduanya memiliki konsep yang berbeda.
Anda harus bisa melihat peluang bisnis dari masalah yang sedang dihadapi customer atau masyarakat di sekitar. Perusahaan startup yang dirintis tersebut harus bisa memecahkan masalah yang menjadi keresahan kebanyakan orang serta dapat memenuhi kebutuhan pasar.
Kesuksesan perusahaan-perusahaan yang telah mendapat predikat “Unicorn” ataupun “Decacorn”, didasari oleh kejelian para perintisnya dalam memanfaatkan peluang yang tengah dialami oleh kebanyakan masyarakat atau customer. Salah satunya yaitu Nadiem Makarim, pendiri aplikasi ojek online “Go-Jek”, yang awalnya melihat semakin berkurangnya ketertarikan masyarakat menggunakan transportasi ojek dalam keseharian mereka, serta pengemudi ojek yang lebih memilih menunggu customer untuk menggunakan jasa mereka. Padahal menurut Nadiem, pengemudi ojek seharusnya bergerak mencari dan menjemput calon penumpang.
Kini, Go-Jek App tidak hanya menyediakan jasa ojek online saja, tetapi juga telah merambah hingga jasa pemesanan makanan, pengiriman barang, pembelian pulsa dan tiket, jasa untuk kebutuhan rumah tangga, dan banyak lainnya.
Alhasil, Go-Jek berhasil menggalang dana sebesar US$550 juta hingga akhirnya startup ini resmi menjadi “Unicorn” senilai US$1,3 Miliar.
Selain kejelian dalam melihat peluang, penggiat startup juga harus cerdas dalam mencari investor untuk mendanai bisnis startup tersebut. Mendapatkan dana untuk startup tidaklah mudah karena tingginya persaingan di dunia venture capitals. Diperlukan usaha yang keras dalam mempromosikan perusahaan rintisan dengan cara yang tepat agar dapat dilirik perusahaan venture capitals, juga keahlian untuk menarik perhatian dan meyakinkan banyak investor bahwa startup yang dibangun menjanjikan keuntungan yang besar.
Disisi lain, diperlukan pula pengetahuan dan pengalaman dalam dunia bisnis.
Poin penting lainnya untuk mencapai level kesuksesan adalah menciptakan produk yang tepat, serta sangat diinginkan oleh pasar modal yang besar. CB Insight melaporkan, bahwa 42% startup yang gagal dikarenakan kurangnya atau bahkan tidak adanya pasar yang membutuhkan produk maupun pelayanan yang ditawarkan perusahaan tersebut.
Keahlian dalam membangun relasi pun menjadi poin utama bagi para penggiat bisnis startup. Menjalin kerjasama dengan aplikasi pembayaran online contohnya, yang dapat lebih memudahkan para customer dalam melakukan transaksi online.
Selain itu, untuk membangun startup yang sukses dibutuhkan tidak hanya ide bisnis brilian dan kucuran dana fantastis dari pemodal besar, tetapi juga teamwork yang produktif untuk membangun startup didukung dengan lingkungan kerja yang produktif pula.
Hal terakhir, yang juga sangat penting dalam suksesnya mencapai level “Unicorn” hingga “Decacorn” bagi suatu perusahaan startup yaitu perusahaan tersebut harus dijalankan oleh orang yang paham keinginan pasar, menjadikan startup tersebut semakin luas jangkauannya, memiliki pengalaman yang cukup baik dalam dunia bisnis—bahkan pernah mengalami kegagalan yang dijadikannya sebagai pengalaman, dan fokus serta memiliki konsistensi dalam mengembangkan startup dengan cepat.
Inti dari seluruh pencapaian yang fantastis bagi perusahaan terutama startup, yaitu kepercayaan bahwa produk ataupun layanan yang mereka sediakan akan secara signifikan meningkatkan taraf kehidupan masyarakat atau customer.